Gambar 1 Gambar 2 Gambar 3 Gambar 4 Gambar 5 Gambar 6

Peran KH. Zuhadi Abdullah dalam Berdirinya SMA NU Widasari: Dari Gagasan Hingga Terwujudnya Lembaga Pendidikan

 

Pendidikan merupakan salah satu pilar utama dalam membangun sumber daya manusia yang berkualitas. Di Kecamatan Widasari pada akhir dekade 1980-an, kondisi pendidikan masih sangat terbatas. Lembaga pendidikan tingkat SLTP dan SLTA belum tersedia, sehingga banyak pelajar di wilayah tersebut harus menempuh pendidikan ke daerah lain. Hal ini menimbulkan kesenjangan akses pendidikan dan menjadi keprihatinan bagi para tokoh masyarakat serta penggerak organisasi Nahdlatul Ulama di Widasari.

Berangkat dari keprihatinan tersebut, muncul gagasan untuk mendirikan sebuah sekolah menengah atas yang dapat menampung dan mendidik generasi muda Widasari. Ide ini tidak hanya sekadar untuk memenuhi kebutuhan pendidikan formal, tetapi juga sebagai upaya melanjutkan tradisi keilmuan dan perjuangan ulama NU dalam mencetak kader bangsa yang berakhlak, berilmu, dan berdaya guna.

A. Perencanaan

Pada tanggal 28 April 1989 menjadi awal sebuah ide gagasan untuk mendirikan lembaga pendidikan. KH. Juhadi Abdullah yang pada saat itu menjabat sebagai ketua Tanfidziyah MWC NU Widasari (1988-1993) di datangi beberapa tokoh NU untuk menyampaikan ide gagasan yang di dapatnya dari sebuah isyaroh (mimpi) untuk membangun lembaga pendidikan.

Setelah mendingarkan cerita dan melakukan diskusi yang panjang terkait pembangunan lembaga pendidikan tersebut KH. Zuhadi Abdullah meminta hal tersebut nanti akan di musyawarahkan bersama tokoh dan pengurus MWC NU lainnya.

Dua hari kemudian, pada 30 April 1989, ide dan gagasan tersebut disampaikan kepada Rais Syuriah MWC NU Widasari KH. Ahmad Kholil (1983-1993). Beliaupun merespon positif sekaligus merestui atas gagasan tersebut dan memasukkannya ke dalam program kerja MWC NU Widasari.

Setahun berselang, dengan bermoodal restu dari para sesepuh NU melalui beberapa pendekatan, ide gagasan tersebut kemudian ditindak lanjuti lebih luas dengan melakukan musyawarah bersama para kyai dan sesepuh, jajaran pengurus MWC NU, tokoh masyarakat, tokoh pemuda NU, musyawarah itu itu dilaksanakan Jumat, 16 Maret 1990, mereka membahas ta’wil mimpi dengan beberapa rujukan dari beberapa kitab-kitab agar hal tersebut dianggap sahih. Dari hasil kajian tersebut diperoleh keterangan yang dianggap sahih dan di sepakati bersama pendirian lembaga pendidikan itu setingkat SMA, sekaligus disepakati dengan nama SMA NU Widasari.

B. Persiapan

Setelah berhasil mendapatkan tingkat lebaga dan nama, prosepun dilanjutakan, tentunya dalam waktu yang cukup lama sembari mempertimbangkan hal-hal yang matang untuk pendirian lembaga pendidikan tersebut. hingga tiba pada tahap persiapan. Di tahap persiapan ini dilakukan dengan bermusyawarah kembali di Pesantren Al-Ma’syumi Widasari pada 5 Oktober 1991. Dalam rapat tersebut diputuskan bahwa rencana pendirian SMA NU segera dilaksanakan dengan mempertimbangkan lokasi antara Desa Widasari atau Desa Kongsijaya.

H. Sukana Fahruroji, mantan Kepala KUA Widasari, menawarkan sebidang tanah wakaf di Desa Kongsijaya Blok Manggungan. Namun, lokasi tersebut kurang strategis karena tidak memiliki akses jalan dan berada di tengah persawahan sejauh 500 meter dari jalan raya Widasari–Jimpret. Musyawirin lain kemudian mengusulkan alternatif berupa tanah milik H. Kartawi di sebelah selatan gedung SD Kongsijaya. Sayangnya, tanah tersebut sudah dihibahkan kepada anaknya sehingga tidak dapat digunakan. Kendala ini sempat memperlambat proses persiapan pembangunan, namun semangat para tokoh NU tetap terjaga untuk mencari solusi terbaik dengan melalukan istikhoroh dan berdoa kepada Allah SWT agar cita-cita mulia terlaksana.

C. Pelaksanaan Pembangunan

Dengan kesabaran, iktiar dan kegigihan, alhamdulillah cita-cita yang selama ini di gagas menghasilkan sebuah momentum penting, Februari 2000 menjadi sebuah bulan yang kramat ketika anggota DPRD Kabupaten Indramayu, H. Dedi Wahidi, melakukan kunjungan kerja (reses) di Madrasah Diniyah Desa Kongsijaya. Dalam kunjungan tersebut, beliau menyinggung soal pendidikan, sehingga para tokoh menyampaikan rencana pendirian SMA NU di Kecamatan Widasari. Respon positif pun langsung diberikan oleh Dewa sebutan H. Dedi Wahidi. Beliau mendorong agar pendirian segera dilaksanakan dan menyarankan agar gedung Madrasah Desa Kongsijaya dimanfaatkan sebagai lokasi awal. Dukungan ini menjadi titik balik yang mempercepat realisasi pendirian SMA NU.

Berkat usaha gigih para tokoh masyarakat dan tokoh agama, akhirnya SMA NU Widasari resmi berdiri pada tahun 2000. Legalitas pendirian diperoleh melalui izin dari Kantor Pendidikan Nasional Provinsi Jawa Barat dengan Keputusan Nomor: 145/102, i/Kep./OT 2001, tanggal 12 Februari 2001. Lembaga ini berada di bawah naungan Yayasan Pendidikan Islam Suhada Al-Amin, dengan akta notaris Wiyono Martono, SH. No. 4 tanggal 12 Maret 1999.

Sejarah pendirian SMA NU Widasari adalah bukti nyata perjuangan dan komitmen para tokoh NU dalam memajukan pendidikan di daerah. Berawal dari gagasan sederhana, melalui tahapan perencanaan, persiapan, dan pelaksanaan yang penuh tantangan, akhirnya berdirilah sebuah lembaga pendidikan yang menjadi kebanggaan masyarakat Widasari.

SMA NU Widasari tidak hanya hadir sebagai solusi atas keterbatasan akses pendidikan, tetapi juga sebagai simbol khidmah dan pengabdian NU dalam mencetak generasi muda yang berilmu, berakhlak, dan siap melanjutkan perjuangan ulama dengan semangat zaman.

Tulisan ini bersumber dari salah satu tokoh sekaligus Mustasyar MWC NU Widasari Alm. KH. Markatab, dan baru pada kesempatan kali ini di muat kedalam blog ini, semoga bisa bermanfaat dan dijadikan sebagai sejarah NU Widasari. Wa Allahu A'lam.

Post a Comment

Silahkan tulis komentar di sini dengan sopan dan benar. No Link !!

Lebih baru Lebih lama